Ada 9 tokoh yang akan direnungkan dari Perjanjian Lama, yang dipilih secara acak. Diawali dengan pencantuman teks Kitab Suci, pembaca dibawa ke dalam pencitraan para tokoh dengan rinci. Citra tokoh-tokoh tersebut digali, dengan merenungkan teks Kitab Suci secara dinamis, dengan memperhitungkan budaya, pesan iman, serta situasi dan kondisi pembaca masa kini. Harapannya, agar kekayaan Perjanjian …
Dosa bukan hanya pelanggaran perintah Tuhan, yang dapat diselesaikan dengan menerima denda. Berdosa membuat orang menjadi pendosa, menyuramkan ‘citra Allah’ (Kej 1, 27), meracuni hubungan antarmanusia dan menjadikannya penipu, pemukul atau bahkan pembunuh. Seluruh sejarah umat manusia ratusan ribu tahun lamanya, penuh dengan tindakan biadab. Puluhan juta sesama manusia dibantai di segala …
Mengakui Allah sebagai mahakudus dan mahatinggi masih kurang. Kemahakuasaan ilahi lain sama sekali dari bentuk kuasa apa pun yang kita kenal. Kita hanya dapat mengerti kuasa ilahi berkat anugerahi ilahi. Sebab, Allah dan segala tindakanNya hanya dapat kita memahami, sejauh diberitahu oleh Allah sendiri. Kristus Yang tersalib mewahyukan rencana dan kebijakan Allah yang kekal bagi orang yang I…
Melalui ujaran-ujaran bijak ini kita mendapatkan pencerahan sekaligus teringat kembali pada apa yang sudah dilakukan oleh mendiang Gus Dur. Ingatan inilah yang mudah-mudahan dapat menginspirasi kita untuk meneruskan dan mengembangkan apa yang sebelumnya sudah dinisiasi oleh Presiden ke-4 ini. Khususnya adalah dalam ranah keagamaan yang moderat-progresif, cara hidup toleran, menghargai kemajemuk…
Franz Magnis Suseno, Pastor Katolik yang kini berusia 81 tahun ini memiliki pergaulan sangat luas. Pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta ini, dapat kita sejajarkan dengan Gus Dur, Cak Nur (Nurcholish Madjid), Buya Syafi’I Ma’arif, Pdt. A. A Yewangoe, serta tokoh-tokoh lain yang secara konsisten merawat kebinekaan bangsa dan senantiasa berupaya bagi terwujudnya kehidup…
“Kartini memang tidak angkat senjata atau memimpin pemerintahan seperti banyak “pahlawan nasional” di luar sana. Ia tidak menggalang massa atau menyerukan pemberontakan. Tapi tulisannya menggambarkan perjuangan panjang di “ruang dalam” yang belum selesai sekalipun kemerdekaan di “ruang luar” sudah tercapai” Hilmar Farid, sejarawan (Gelap Terang Kartini, Jakarta: KPG – Tempo, 2…